Tuesday, September 13, 2016

Haarlem: Kota Kecil yang Menenangkan

Molen de Adriaan pada sore hari

Kota Harlem di Amerika Serikat mungkin lebih terkenal dibandingkan dengan Kota Haarlem yang ada di Belanda. Terlebih lagi dengan adanya demam "Harlem Shake" beberapa waktu yang lalu. Kedua kota tersebut ternyata mempunyai hubungan sejarah. Pasalnya nama Kota Harlem yang berada didekat New York atau dulu dikenal dengan nama Nieuw Amsterdam tersebut diambil dari nama Haarlem yang hanya berjarak sekitar 17 km dari Amsterdam.


Walaupun letaknya sangat dekat dengan Amsterdam, sepertinya Haarlem tidak terlalu populer dikalangan turis dibandingan kota-kota lain di Belanda. Padahal kota kecil yang sekaligus merupakan ibukota dari Provinsi Nord Holland ini sangat cantik dan punya banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi. Stasiun kereta api tertua di Belanda juga berada di kota ini. Bangunan stasiun tertua tersebut sampai saat ini masih bisa kita lihat kecantikannya sampai saat ini sama seperti bangunan tua lainnya diseantero Belanda yang masih sangat terawat sampai saat ini.

rumah-rumah pnduduk yang ada dipinggir kanal


Haarlem dikelilingi oleh kanal-kanal seperti lazimnya kota lainnya di Belanda. Kanal-kanal tersebut terhubung ke kota lain seperti Amsterdam atau IJmuiden yang kemudian menghubungkannya ke laut. Yang menarik adalah diperbatasan antara kanal dan lautan terdapat sebuah pintu air yang dikenal dengan nama "sluis". Pintu tersebut berguna untuk menyamakan permukaan yang ada di kanal dan laut. Sebelum masuk ke laut, kapal-kapal harus menunggu permukaan kanal sama dengan permukaan laut. Proses tersebut dilakukan dengan cara menyedot air yang ada pada saat pintu ditutup.

sluis atau pintu pembatas antara kanal dan lautan


Walaupun berada ditengah kota, kanal utama yang ada di Haarlem ini cukup dalam karena kapal yang berukuran cukup besar masih tetap bisa melintas. Ada pemandangan yang cukup unik yang bisa kita lihat pada saat kapal-kapal besar akan lewat.Pemandangan seperti ini mungkin hanya bisa dilihat di Belanda yaitu pemandangan berupa jembatan yang dibuka agar  kapal-kapal dengan ketinggian yang melebihi 5 meter bisa melewati jembatan tersebut.

jembatan dibuka jika ada kapal yang lewat


 Jembatan tersebut tidak secara otomatis terbuka, melainkan dikendalikan oleh seorang petugas yang berada disebuah pos yang ada diatas jembatan tersebut. Untuk bisa melewati jembatan tersebut pun tidak gratis, semain besar dan tinggi kapal yang akan lewat semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan. Untuk kapal yang kecil bisa dengan mudah melewati bawah jembatan tanpa harus membuka jembatan. Saat jembatan dibuka, lalu lintas lain dijalan harus menyesuaikan. Bahkan kadang juga sering menimbukan kemacetan jika ada banyak kapal yang akan lewat terutama pada saat musim panas. Karena pada saat musim panas banyak orang Haarlem yang akan menikmati teriknya sinar matahari dan udara yang cukup hangat dengan cara berkeliling kota menggunakan kapal mereka. Di musim lainya mereka tidak bisa melakukan hal ini karena udara yang cukup dingin.

menunggu jembatan dibuka kembali


Tata letak kota-kota di Belanda ini cukup menarik karena diatur dengan sedimikian rupa. Jika digambarkan tata kotanya seperti sebuah lingkaran. Ditengah lingkaran atau pusatnya disebut dengan centrum . Kawasan centrum biasanya terdapat sebuah lapangan seperti alun-alun kalau di Indonesia dimana terdapat gereja dan pusat pemerintahan atau balaikota. Kawasan tersebut kemudian dikelilingi oleh pusat perbelanjaan kemudian pada lingkaran berikutnya adalah kawasan perumahan penduduk dan juga fasilitas umum lainya.

Gereja St Bavo dan Grote Markt


Bangunan yang paling mencolok di kawasan Haarlem Centruum adalah Gereja St Bavo atau Grote St Bavo Kerk. Gereja megah yang dibangun pada abad ke-16 ini pada awalnya merupakan gereja Katholik yang kemudian dikuasai oleh orang-orang Protestan. Setelah dikuasai, orang-orang Katholik kembali membangun kembali sebuah gereja baru yang tidak kalah megah dengan gereja yang lama dan letaknya hanya sekitar 3 km. Gereja yang baru tersebut kemudian dikenal dengan nama Gereja Katedral St Bavo. Kedua gereja megah tersebut kini hanya menjadi semacam museum karena sudah tidak banyak lagi orang yang berkunjung untuk beribadah mengingat sebagian besar penduduk Belanda saat ini adalah penganut paham agnostik dan atheis. Kalau pun ada yang masih datang ke gereja untuk beribadah biasanya adalah kalangan orang-orang yang sudah tua.

pemandangan didalam Gereja St Bavo


Gereja tersebut akan terlihat sangat meriah pada saat perayaan Natal saja setiap tahunnya. Gereja St Bavo setiap hari Minggu dibuka untuk umum yang ingin berkunjung tanpa dipungut biaya. Didalam gereja ini kita bisa melihat secara langsung kemegahan gereja yang sudah dibagun beberapa abad yang lalu ini.

Katedral St Bavo


Persis tepatnya didepan gereja ini terdapat tanah lapang yang dikenal dengan nama Grote Markt yang artinya adalah pasar besar. Nama tersebut diambil karena setiap hari Sabtu tempat ini akan berubah menjadi pasar dadakan yang cukup rame. Barang yang dijual di pasar ini cukup beragam. Mulai dari keju, berbagai macam roti, buah-buahan, bunga, bahkan sampai barang-barang KW seperti sepatu dan juga pakaian yang bisa didapatkan dengan harga yang cukup murah. Pada hari lainya tempat ini hanya akan menjadi lahan kosong yang dipenuhi oleh kursi-kursi yang berjejer didepan restoran dan cafe yang ada disekililingnya. Orang-orang Belanda memang suka menghabiskan waktu sore mereka terutama pada akhir pekan untuk duduk bersama dengan keluarga atau teman. Restoran atau cafe terbuka dipinggir jalan merupakan pemandangan lazim di Belanda atau bahkan mugkin diseluruh Eropa.



Berjalan menyusuri sekitar Grote Markt maka kita akan menjumpai berbagai pusat perbelanjaan. Jangan dibayangkan pusat perbelanjaan disini seperti mall-mall megah yang ada di Jakarta atau Singapura. Pusat perbelanjaan disini hanya tampak seperti ruko-ruko yang ada di Indonesia. Ruko-ruko tersebut pun biasaya hanya pada lantai dasarnnya saja yang digunakan sebagai toko. Lantai selajutnya digunakan sebagai tempat tinggal. Tetapi didalam jejeran toko-toko kecil tersebut kita bisa tetap menemukan berbagai merk fashion dunia.



Sepeda adalah kendaraan yang paling lazim digunakan diseluruh Belanda. Hampir semua keluarga di Belanda mempunyai mobil. Tetapi karena biaya parkir dan harga bahan bakar yang cukup mahal, mereka lebih sering menggunakan sepeda jika hanya bepergian didalam kota. Mereka biasanya hanya akan menggunakan mobil jika akan pergi keluar kota atau jika harus membawa barang dalam jumlah banyak yang tidak memungkinkan jika dibawa dengan menggunakan sepeda. Anak umur 6 tahun sampai dengan nenek-nenek uur 60 tahun semua bersepeda di Belanda.

salah satu sudut parkiran sepeda di Stasiun Haarlem


Pengendara sepeda di Belanda adalah "raja". Segala fasilitas penunjang untuk para pesepeda semuanya dibangun oleh pemerintahnya dengan sangat baik mulai dari jalur khusus sepeda (fietspad), lampu lintas, sampai dengan parkir khusus sepeda. Mungkin karena hal ini juga lah orang-orang di Belanda tetap mau bersepeda karena cukup nyaman selain saja tentu saja karena topografi Belanda yang semuanya datar. Hal tersebut didukung juga oleh peraturan atau undang-undang yang mengatakan bahwa setiap terjadi kecelakaan antara sepeda dan mobil, pengendara mobil akan selalu menjadi pihak yang tersalahkan.








No comments:

Post a Comment