Saturday, July 23, 2016

Naik ke Puncak Monas

Sebenarnya saya sudah pernah cukup lama tinggal di Jakarta dan Bekasi. Tapi seingat saya, baru sekali masuk ke dalam kawasan Monas. Itu pun hanya dipelatarannya saja, tidak sampai masuk ke dalam bangunannya. Apalagi sampai naik keatas puncak yang katanya dibuat dengan menggunakan campuran emas tersebut. Dan entah kenapa dulu tidak ada keinginan dan ketertarikan sama sekali untuk masuk kedalam dan naik sampai ke puncak Monas.






Mungkun sama seperti teman-teman saya yang tinggal di Jakarta atau bahkan dari lahir sudah menetap di Jakarta, kebanyakan dari mereka juga belum pernah masuk kedalam Monas apalagi sampai naik ke puncaknya. Ada beberapa orang yang mengatakan malas untuk mencoba naik ke puncak Monas karena antriannya yang cukup panjang setiap harinya. Karena kebetulan bulan lalu berkunjung ke Jakarta, dari awal keberangkatan saya sudah merencankan untuk dan naik keatas puncak Monas. Buat sekedar mengobati rasa penasaran aja.

Antrian saat itu tidak terlalu panjang seperti yang diceritakan banyak orang. Mungkin karena sudah cukup sore dan bukan hari libur. Ditambah lagi waktu itu adalah bulan puasa. Banyak orang yang lebih memilih untuk ngabuburit dan mencari jajanan untuk berbuka puasa. Mungkin ya!

Saya memilih menaiki bus Transjakarta menuju ke Monas. Alasannya tentu saja karena paling gampang dan paling murah. Kalau naik Transjakarta berarti halte yang bisa dipilih adalah adalah Halte Monas atau Halte Gambir. Dari kedua halte tersebut kita tinggal berjalan kaki untuk masuk ke kawasan Monas.

Tugu Monas dikelilingi oleh taman hijau yang cukup dan tanah lapang yang cukup luas. Jika kita masuk dari pintu didekat stasiun Gambir, kita akan melewati parkiran dan juga kumpulan para pedagang makanan dan cinderamata sebelum masuk ke halaman Monas. Untuk masuk kedalam kawasan ini kita tidak dipungut biaya apapun. Taman Monas ini biasanya digunakan sebagai tempat olahraga oleh orang Jakarta pada pagi atau sore hari.

Ada hal yang cukup membuat saya geli dan ketawa sendiri saat mencoba masuk kedalam bangunan Tugu Monas. Karena baru pertama kali dan tidak terlalu memperhatikan, saya pikir waktu Monas sudah tutup untuk pengunjung. Saya mencoba mencari pintu masuk dengan memutari pagar untuk mencari gerbang yang masih terbuka. Setelah satu putaran yang cukup melelahkan, ternyata tidak ada satu pintu pun yang terbuka. Dalam hati saya mungkin karena sudah sore Monasnya sudah mau tutup. Tapi sesaat kemudian saya melihat dua orang yang tadi berjalan dibelakang saya ternyata sudah ada didalam pelataran Monas. Melompati pagar? yang pasti tidak mungkin. Setelah melihat-lihat sekitar, ternyata disebrang sana ada tulisan dan petunjuk bahwa kalau mau masuk Monas harus melewati terowongan. Arghhh akhirnya ketemu juga. Harga tiket masuk ke Monas cukup murah yaitu Rp 4.000. Sementara jika ingin naik sampai ke puncak harganya adalah Rp 14.000. Sementara jika ingin sampai ke cawan saja harga tiketnya adalah Rp 8.000.

pemandangan dari cawan Monas


Sebelum masuk antrian didepan lift, dari terowongan pembelian tiket kita akan melewati ruangan yang cukup besar yang berada dilantai paling bawah dari Tugu Monas. Ruangan ini berisi banyak sekali diorama sejarah Indonesia dari mulai zaman prasejarah sampai jaman kemerdekaan.

Untuk menuju ke puncak Monas kita harus menggunakan lift. Didepan pintu lift sudah dipasang garis pemisah agar antrian bisa lebih antri. Liftnya pun dioperasikan oleh petugas. Sebelum naik karcis terlebih dahulu akan diperiksa oleh petugas. Tujuannya adalah apakah orang tersebut benar-benar membeli tiket untuk ke puncak Monas atau hanya untuk sampai ke cawan saja. Karena untuk menuju ke cawan tidak perlu menggunakan lift dan masuk antrian, cukup dengan menaiki tangga manual karena tidak terlalu tinggi.

Pemandangan Jakarta dari puncak Monas


Saat naik lift tidak berhenti dan akan langsung menuju ke puncak. Sementara pada saat turun lift akan berhenti di cawan untuk menurunkan pengunjung agar tidak bertabrakan dengan pengunjuk yang akan naik. Dari puncak Monas ini kita bisa melihat kesekeliling Kota Jakarta yang saat ini sudah dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit.

No comments:

Post a Comment