Wednesday, April 6, 2016

One Day Trip to KL (Part I)

Ini adalah kali kedua saya berkunjung ke Kuala Lumpur, Malaysia. Kunjungan saya ke Malaysia yang pertama tahun 2012 yang lalu. Bermodalkan tiket promo seharga kurang lebih Rp 200.000 PP. Akhirnya bisa kembali datang ke Negeri Jiran ini. Tidak alasan khusus kenapa saya membeli tiket JOG - KUL - JOG tersebut. Alasannya cuma karena harganya murah aja dan  sudah saking lamanya ga naik pesawat, pengen ngerasain yang namanya naik pesawat lagi. Pada saat membeli tiket tersebut pada bulan Oktober 2015 pun tidak terlalu kepikiran apakah nantinya jadi berangkat atau enggak. Mengingat jumlah rekening tabungan yang bikin sedih.Tapi akhirnya bisa pergi juga walaupun sangunya harus hutang sana sini. Sayang tiketnya kalau hangus engga dipakai.  Untunglah ada teman dari Couchsurfing yang bersedia menampung sehingga bisa mengurangi sedikit (banyak dink) pengeluaran selama jalan-jalan di Kuala Lumpur

AirAsia AK349 JOG - KUL di Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta




Dulu ke Kuala Lumpur lewat Semarang dan mendarat di LCTT. Sekarang pergi dari Jogja dan mendarat di KLIA 2. Yang jelas KLIA 2 bandaranya lebih besar dibandingkan sama LCTT apalagi kalau dibandingkan sama Bandara Ahmad Yani atau Bandara Adi Sutjipto. KLIA2 lebih terlihat lebih megah dan lebih mirip dengan mall atau pusat perbelanjaan. Pesawat AirAsia yang saya tumpangi dari Jogja mendarat di KLIA 2 pada sekitar 21.00 waktu Malaysia dan langsung menuju ke keluar karena untuk mencari bas (bus: Bahasa Indonesia) menuju ke Batu Tiga Jalan Ipoh atau halte bus terdekat dari apartement tempat saya akan menginap. Tambang (biaya) bus dari KLIA 2 ke Batu Tiga adalah MYR 10. Perjalanan ditempuh kurang lebih selama satu jam. Tapi sebelumnya saya membeli simcard yang sudah berisi paket data seharga MYR 30 agar bisa lebih mudah berkomunikasi dengan teman Couchsurfing saya.Namanya Ky Poon, atau biasa dipanggil dengan nama Ky.

Tiket bas KLIA2 - Batu 3, Jalan Ipoh



Sampai di Batu Tiga Jalan Ipoh, ternyata Bang Ky sudah menunggu. Dia katanya dah hafal jam berapa aja bus yang dari KLIA 2 sampai di Batu Tiga. Sebelum menuju ke apartemen Ky di Villa Angsana, saya terlebih dahulu diajak makan disebuah tempat makan dipinggir jalan (kalau di Jogja semacam lesehan). Kata dia, yang dijual ditempat tesebut bukan makanan halal. Jadi yang datang makan hanya orang dari Etnis Cina dan India saja.

Nasi goreng spesial

Dan sepertinya pada saat kedatangan saya pemilik warungnya juga bertanya kepada Ky dalam Bahasa Cina apakah saya orang Melayu atau bukan. Karena dalam hukum atau undang-undang Malaysia jika ada warung atau restoran non halal yang ketahuan melayani atau menjual makanan kepada orang Melayu, maka restoran tersebut bisa dikenai sangsi atau denda. Begitu juga dengan orang Melayu yang ketahuan membeli makanan yang tidak halal juga akan dikenai denda. Karena dalam hukum Malaysia semua orang Melayu harus beragama Islam. Ky memesankan nasi goreng spesial babi untuk saya. Namun karena porsinya yang cukup besar (sangat besar buat saya), saya harus membagi makanan tersebut dengan dia. Setelah perut kenyang, dengan mobil Ky kita meluncur ke apartemennya yang berada tidak jauh dari Stesen Batu Kentomen.

Karena waktu sudah cukup larut malam pada saat kita sampai di Apartement, tidak terlalu banyak hal yang kita bicarakan. Hanya seputar rencana apa saja yang akan saya lakukan dan tempat-tempat mana saja yang akan saya kunjungi selama di Kuala Lumpur. Kita harus segera tidur karena Ky harus ke kantor pagi-pagi.

Kuala Lumpur, 16 Maret 2015

Apartemen Ky berada dipinggiran Kuala Lumpur. Pada pagi hari dari balkon aparteman saya bisa melihat gedung-gedung pencakar langit yang kontras dengan perbukitan hijau yang menjadi latar belakang gedung-gedung tersebut. Walaupun Kuala Lumpur sudah menjadi kota metropolitan, tapi kota ini masih menyisakan banyak taman dan ruang hijau yang bisa dijadikan sebagai paru-paru kota. Selain untuk memperindah pemandangan tentu saja.

View Kuala Lumpur dari Villa Angsana


Sebelum ke kantor Ky menyempatkan untuk mengajak saya sarapan di sebuah kedai tidak terlalu jauh dari apartemen. Sarapan kita adalah nasi lemak, makanan khas orang Melayu. Kalau di Indonesia, nasi lemak mirip dengan nasi uduk. Kata Kay penjual nasi lemak tersebut penjualnya orang Indonesia. Karena penasaran, saya mengajak ngobrol penjualnya. Dan ternyata benar, ibu penjual nasi uduk tersebut berasal dari Magelang, Jawa Tengah tapi sudah lama tinggal di Malaysia. Karena ibu penjual nasi lemak tersebut tau saya berasal dari Jogja, akhirnya kita berbincang dalam bahasa Jawa. Harga nasi lemak + es kopinya cukup murah, hanya MYR 4.

Penjual nasi lemak ini berasal dari Magelang


Olahraga Pagi di Batu Caves

Sesuai dengan rencana awal saya, tempat pertama yang ingin saya kunjungi di Kuala Lumpur adalah Batu Caves yang ternyata jaraknya cukup dekat dengan tempat saya dan Ky sarapan. Dengan menggunakan KTM (kereta api) hanya melewati 2 stesen. Biayanya pun cukup murah, hanya MYR 2.15. Setelah sarapan Ky mengantar saya ke stesen terdekat sebelum dia berangkat kerja. Kita janjian ketemu lagi pada malam hari setelah dia pulang kerja. KTM menuju ke arah Batu Caves pagi itu terlihat sangat sepi karena orang lebih banyak beraktifitas menuju kearah sebaliknya atau arah KL Sentral. Batu Caves merupakan stesen pemberhentian terakhir, jadi kita tidak bakal tersasar atau salah tempat turun.

Suasana pagi di stesen, masih sepi


Bukan suasana di kereta aja yang masih sepi pagi itu. Suasana di Batu Caves pun juga masih lumayan sepi. Belum terlalu banyak orang dan turis. Hanya ada beberapa rombongan orang dari Bali (yang saya kenali dari pakaiannya dan kemudian saya ajak ngobrol) dan rombongan turis dari China (yang sedikit saya dengar dari bahasanya, kalau tidak salah). Kalau suasana sepi gini bisa lebih enak untuk jalan-jalan dan ambil foto tanpa terganggu dengan lalu lalang orang. Terutama di depan patung Dewa Murugan yang merupakan ikon dari tempat ini. Patung tersebut tingginya mencapai 42,7 meter dan merupakan patung Dewa Murugan yang tertinggi di dunia.

Patung Dewa Murugan, Ikon dari Batu Caves

Traveler piyambakan, jadi harap dimaklumi fotonya


Batu Caves merupakan kuil umat Hindu terbesar yang letaknya berada diluar India. Kuil ini berada disebuah gua yang lokasinya berada disebuah perbukitan batu kapur. Tingginya kurang lebih mencapai 100 meter. Untuk mencapainya, kita harus terlebih dahulu menaiki tangga sebanyak 272 buah. Tangga yang lumayan menukik tersebut cukup membuat saya yang kurang tidur ngos-ngosan dan berkeringat. Tapi perjuangan menaiki tangga tersebut akan terbayarkan dengan pemandangan indah yang kita dapatkan saat berada diatas. Karena tempat ini merupakan tempat ibadah, setiap orang yang datang kesini harus berpakaian sopan dan rapi. Pengunjung yang menggunakan pakaian terbuka seperti rok mini atau hot pant akan dipinjami sarung oleh penjaga yang berada di pintu masuk sebelum menaiki tangga.

Dibelakang itu anak tangga yang harus kita naiki untuk bisa sampai puncak


Setelah berhasil menapaki 272 anak tangga tersebut kita akan disambut oleh beberapa monyet yang bergelantungan atau bahkan menyambut setiap orang yang datang. Di dalam gua ini kita bisa melihat beberapa kuil atau spot tempat beribadah. Tidak lupa juga kita juga akan disambut dengan bau dupa khas yang cukup menyengat. 

Kuil yang ada di dalam gua


Perjalanan turun kebawah ternyata juga tidak semudah yang dibayangkan. Menuruni anak tangga sebanyak 272 buah hampir sama capeknya dengan pada saat naik. Jadi sebelum naik jangan lupa untuk persiapan membawa air minum. Sebenarnya di dalam gua ini ada penjual air minum, tapi harganya jauh lebih mahal. 


(Bersambung).......


No comments:

Post a Comment