Saturday, March 29, 2014

Kopi Merapi - Kenikmatan Menantang Maut

Judulnya agak lebay ya, eitsss tapi dengar dulu penjelasannya kenapa bisa gitu. Ada cerita unik yang membawa saya kesini, ke kopi merapi. Warung kopi di lereng gunung Merapi.


Begini ceritanya. Beberapa hari yang lalu, teman saya didin datang ke kopi merapi sendirian. Kita tau tempat ini dari artikel di majalah yang ada dirumah. Saat dia menikmati kopi bersama para pembeli lain, tiba-tiba ada yang janggal terjadi. Sinyal di handphone hilang kemudian disusul suara gemuruh yang datang dari puncak merapi. Langitpun menjadi gelap. Gunung merapi yang tadinya terlihat kokoh tertutup awan gelap. Orang yang bekerja menambang pasir di kali dekat warung berlarian dan menjauh dari lokasi penambangan. Suara pengumuman bahaya yang terdengar dari handie talkie yang dibawa salah seorang pengunjung warung pun menambah kepanikan. Gunung Merapi kembali bereaksi siang itu. Semua pengunjung termasuk pemilik warung akhir ikut menjauh dari lokasi. Didin belum sempat membayar kopinya karena semua orang panik.




Hari ini (28/03/2014) akhirnya saya dan didin kembali datang ke Kopi Merapi untuk membayar kopi yang kemarin belum sempat terbayar. Kopi Merapi terletak di Desa Petung, Cangkringan yang terletak sekitar 7 km dari puncak Merapi (kata pemilik warung) dan berada di ketinggian 878 meter diatas permukaan laut. Berada ditengah-tengah tanah gersang berdebu dan batu-batu yang berasal dari lemparan sang Merapi. Truk pengangkut pasir dan Jeep wisata adalah pemandangan yang terlihat didepan warung.


Kita berangkat dari rumah sekitar pukul 9 pagi dengan mengendarai dua motor. Ya dua motor, karena kata didin jalan yang akan kita lalui sulit kalau berboncengan dalam satu motor. Sebenarnya ada jalan yang lebih mudah menuju ke lokasi tapi kita harus membayar retribusi. Karena kita adalah cowok-cowok kere yang suka dengan yang gratisan. Akhirnya kita mencari jalan tembus melewati kampung.


Sebelumnya kita terlebih dulu mengunjungi Kali Kuning yang sebelum erupsi Merapi 2010 adalah salah satu tempat yang banyak dikunjungi di area Kaliurang. Dari Kali Kuning dilanjutkan menembus kampung untung menghindari pos retribusi. Jalan yang dilalui adalah jalur truk yang membawa pasir dari lereng merapi. Pada kilometer awal jalanan aspal masih cukup mulus dan tanpa debu. Tapi sisanya adalah jalan beton rusak berbatu dan penuh debu. Sesekali harus mengalah minggir kalau ada truk yang lewat. Jalan ini sebenarnya bukan jalur yang baik untuk motor matic. Tapi kita berdua menggunakan motor matic :D

Suasana di Kali Kuning

Ada beberapa pengunjung yang sudah berada disini saat kami datang. Mungkin karena ini akhir pekan banyak yang datang ke wilayah ini. Jeep wisata pun banyak berseliweran.
Kami memesan 2 kopi. Kopi yang dijual disini adalah kopi tubruk yang berasal dari biji kopi yang ditanam di sekitar merapi. Kata bapak penjualnya, ini adalah stok terakhir kopi merapi yang tersisa. Semua pohon kopi dan biji kopi yang ada digudang musnah saat erupsi merapi. Tapi jangan khawatir pohon-pohon kopi yang baru sudah ditanam kembali di areal seluas 1.6 hektar dan sebentar lagi siap panen.



truk-truk pengakut pasir

Warung ini cukup sederhana seperti warung warung dikampung seperti biasanya. Ada beberapa set kursi yang bisa kita pakai saat menikmati kopi. Kopi disini masih diracik secara tradisional digoreng sangrai menggunakan wajan dari tanah liat dan tungku kayu. Rasa kopinya mengingatkan saya kepada kopi yang biasa dibuat oleh nenek saya dikampung. Dia biasa membuat kopi sendiri mulai dari memanen sampai menumbuknya secara manual. Sepertinya ini adalah tempat yang wajib dikunjungi untuk para pecinta kopi tradisional.

  

didin sedang berkonsentrasi membaca buku


tempat menyangrai kopi
   



sebenarnya saya bukan perokok, tapi memang hari ini saya merokok :D
 
 

2 comments:

  1. Wew? Dusun Petung itu bukannya dusun yang jadi dusun mati ya selepas erupsi tahun 2010 kemarin? Warganya banyak yang direlokasi kan?

    Saya lewat dusun Petung itu ya pas naik jeep Lava Tour Merapi sebab rutenya melalui dusun Petung. Tapi saya nggak lihat warung kopi Merapi ini.

    Yang saya penasaran juga adalah jalan ke dusun Petung ini masih dibuka ya? Saya kira sudah ditutup? Tapi dirimu bisa motoran sampai sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya om udah ga ada rumah lagi disekitarnya. yang ada cuma truk truk pengangkut pasir sama jeep. aku lewatnya jalur yang sebenarnya buat jalan truk truk pengangkut pasir waktu perginya, tapi pulangnya lewat jalur biasa yang biasa dipake orang buat ke mearapi. Lokasinya di dekat obyek wisata watu payung. saya ga tau si itu apa. cuma liat dari tulisan yang ada di spanduk yang ada dsitu. jeep jeep juga pada turun kesitu

      Delete