Tuesday, March 25, 2014

Kasir Supermarket

Tulisan ini bukan untung membanding-bandingkan antara yang terjadi di Indonesia dan Belanda. Saya cuma mau berbagi pengalaman aja. Barangkali bisa jadi pengetahuan bagi yang baca. Haha
Ceritanya tadi sore saya pergi belanja ke Superindo yang ada di Kentungan. Bukan belanja sih sebenarnya cuma beli beberapa barang aja.


Sekarang tuh udah tanggal tua, tapi tetep aja yang belanja disana banyak banget. Alhasil antrian di kasir ngga bisa dihindarin. Waktu ngantri itulah jadi ingat kebiasaan tiap sore waktu di Belanda. Kegiatan wajib saya tiap sore adalah belanja ke supermarket dekat rumah untuk membeli keperluan untuk makan malam. Saya lebih suka belanja di Albert Heijn.


Dibandingkan Superindo, Albert Heijn jelas lebih kecil. Kalau dilihat jumlah pembelinya lebih banyak di Albert Heijn, tapi jumlah kasirnya lebih banyak di Superindo.Nah yang jadi pertanyaan? kenapa antrian di Albert Heijn lebih bisa teratasi dengan cepat? begini ceritanya selain kasir yang konvensional disana juga ada kasir mesin otomatis yang bisa dipakai oleh orang-orang yang berbelanja dalam jumlah kecil dan membayar dengan kartu kredit. Mesin ini jelas bisa mempercepat mengurangi jumlah antrian.


Satu lagi mungkin perbedaan yang mencolok antara kasir disana dan disini. Tugas kasir disana lebih ringan. Tugas mereka hanya menscan barang lalu menjumlahkan total harga dan menerima pembayaran. Masalah mengemasi dan memasukan barang belanjaan semuanya dilakukan oleh pembeli.Ini jelas sangat membantu kerja kasir. Apakah orang disini mau melakukan itu? saya masih ragu, pasti mereka berfikir bahwa para kasir itu sudah mendapatkan gaji untuk melakukan pekerjaan itu. Dan satu lagi yang menarik disana. Orang-orang yang berbelanja biasanya membawa tas belanja sendiri dari rumah. Pihak supermarket tidak memberikan plastik secara cuma-cuma. Dari yang muda sampai yang tua tidak segan untuk memasukan belanjaan kedalam tas mereka. Mereka sudah mencoba untuk mengurangi penggunaan plastik. Kasir disana bekerja sambil duduk didepan komputer kasir. Yang saya lihat hampir semua pembeli mengucapkan terimakasih pada kasir saat membayar. Bukankah itu salah satu penghargaan terhadap kasir yang sudah membantu kita. 


Perubahan memang tidak akan terjadi begitu saja tanpa kita awali. Yang paling penting adalah mengawali dari diri sendiri. Perubahan juga tidak akan terjadi dalam waktu yang cepat, semuanya butuh proses dan niat.

2 comments:

  1. Budaya membawa kantong belanja sendiri sebenarnya sudah ada lho. Di pasar-pasar tradisional kita masih bisa menemukan pembeli yang membawa kantong belanja sendiri. Walau ya jumlahnya tidak sebanyak sebelum kurun tahun 90-an.

    Masuknya supermarket di Indonesia memberi kesan pada masyarakat umum bahwa "inilah pasar modern". Oleh karena itu kantong belanja tergantikan dengan kantong plastik karena dirasa lebih modern dan praktis. Adapun bangsa kita ini memiliki budaya "ingin dilayani", inilah yang membuat kasir bertugas ekstra.

    ReplyDelete
  2. oh iya ya. sebenarnya memang budaya itu sudah ada. simbah saya kalo kepasar juga dulu suka membawa krendeng ( semacam keranjang untuk membawa belanja). Tapi kalau dilihat sekarang orang jarang yang mau membawa tempat belanjaan sendiri dari rumah terutama di minimarket. Kadang ada barang yang kita beli bisa kita bawa cukup ditenteng dengan tangan,tapi tetap kita meminta kantong plastik.
    sama satu lagi budaya di Belanda yang masih saya ingat. Jika ada orang yang belanjanya sangat banyak sedang berada dikasir dan dibelakangnya ada orang yg hanya membeli sangat sedikit barang. orang yg didepan itu biasanya akan dengan sukarela memberikan giliran terlebih dulu kepada orang dibelakangnya itu.

    ReplyDelete